Sabtu, 15 Januari 2011

ARUNG PALAKKA

Bagian II Trilogi Drama Teropong dan Meriam
Naskah: Fahmi Syariff
Sutradara: Jacob Marala.
Produser: Ajeip Padindang.
Pementasan I: Teater Latamaosandi, Makassar, Sulawesi Selatan.
Gedung Kesenian DKM, 7-10 Agustus 1988.

Sinopsis

Tiga laki-laki sedang membuat kubu pertahanan dengan cara membuat galian di pesisir pantai. Mendadak dari satu arah terdengar letusan. Seperti biasa, jika ada letusan, berarti ada nyawa melayang. Dan benar, di gundukan pasir galian, lewat dua laki-laki menggotong mayat dengan menggunakan sarung dan bambu. Di belakangnya, seorang mandor menyusul sambil meniup asap dari lubang senapannya.

Demikian gambaran peristiwa keseharian di sepanjang wilayah penggalian, peristiwa-peristiwa yang menyimpan gumpalan pedih di balik dada para pekerja. Untuk melawan hanya kesia-siaan, sebagaimana yang terjadi sebelumnya.

Turunnya Arung Palakka ke penggalian atas perintah Karaeng Karunrung, Mangkubumi Kerajaan Gowa, dianggap oleh para pekerja sebagai tindakan yang sudah sangat melampaui batas. Betapa tidak, Arung Palakka adalah turunan langsung Raja Bone, dibesarkan bersama I Mallombasi, Raja Gowa, dan Karaeng Karunrung oleh Karaeng Pattingalloang. Akan tetapi bagi  Arung Palakka, hal itu justru merupakan jalan utama dan pertama untuk merebut kembali harkat manusia sebagai manusia.

Puncak kepedihan yang dirasakan oleh Arung Palakka adalah saat ayahandanya, Arung Tana Tennga, meninggal; langsung dimakamkan tanpa sepengetahuannya. Peristiwa itu menciptakan dendam, dan akan ditebusnya bukan dengan menyerang, melainkan dengan membebaskan semua pekerja parit yang jumlahnya sekitar 10.000 orang.

Sambil bekerja di penggalian, strategi pun dia susun bersama 7 pekerja lainnya. Waktu yang mereka pilih untuk membebaskan diri dari perbudakan itu adalah saat berlangsungnya pesta panen di Tallo. Pilihan pada hari pesta itu didasarkan atas pertimbangan, bahwa sebagian besar tubarani akan hadir pada pesta panen itu, selain rakyat tentu saja akan ikut dalam pesta yang sangat langka dilakukan itu. Ini berarti bahwa daerah penggalian akan kosong dari kekuatan. Malam hari sebelum pembebasan itu mereka lakukan esoknya, kedelapan laki-laki itu bertemu di penggalian mengikat janji dengan mengitari sebuah batu dan menghancurkannya.

Hari yang mereka nantikan itu pun tiba. Kurang lebih 10.000 pekerja secara serempak meninggalkan daerah penggalian. Konflik yang tak bisa tidak terjadi, adalah antara mereka dengan mandor yang memang tidak seberapa jumlahnya. Setelah kesemua mandor itu mereka lumpuhkan, mereka kemudian berkumpul di tempat yang telah mereka tentukan untuk selanjutnya meninggalkan Gowa.

Di satu ketinggian berdiri Arung Palakka. Di ketinggian lain berdiri Karaeng Karunrung. Di dekat mereka berkibar bendera masing-masing. Keduanya bertarung dalam diam, lalu keduanya ditelan kegelapan. Yang tersisa hanyalah bendera yang berkibar angkuh. Terakhir, Arung Palakka muncul dari kegelapan dengan sebuah senandika: “Tidak salahkah aku jika aku minta bantuan bangsa lain untuk melepaskan bangsaku dari perbudakan yang dilakukan oleh bangsa yang kebetulan lebih kuat daripada bangsaku?”*


Kamis, 13 Januari 2011

KARAENG PATTINGALLOANG








Bagian I Trilogi Drama Teropong dan Meriam
KARAENG PATTINGALLOANG
(Diilhami oleh cerpen Menghadap Karaeng Pattingalloang karya Sinansari Ecip).
Pementasan I    : Pertemuan Sastrawan Nusantara, Auditorium RRI, Makassar, 1992.
Pementasan II   : Festival Teater Indonesia, Taman Budaya, Solo, 1993.
Pementasan III : Festival Istiqlal II, TIM, Jakarta, 1995.
Naskah: Fahmi Syariff.
Sutradara: Jacob Marala.
Produksi: Teater Makassar, Dewan Kesenian Makassar, Sulawesi Selatan.
Produser: Arsal Alhabsi.

Sinopsis
Kerajaan Gowa dan Kerajaan Tallo pada awalnya terlibat dalam kancah peperangan. Tetapi setelah perdamaian terjadi, keduanya menjadi kerajaan kembar, Gowa-Tallo, dengan kesepakatan: setiap Raja Tallo harus menjadi Mangkubumi Kerajaan Gowa. Dari kesepakatan itulah lahir idiom se’re ata ruwa karaeng (satu abdi dua raja).

Raja Tallo, Karaeng Pattingalloang (Agustus 1600-15 September 1654) bernama asli I Manngada’cinna Daeng Sitaba, menjadi Mangkubumi Kerajaan Gowa pada masa pemerintahan Raja Gowa XV. Kepopulerannya sebagai seorang cendekiawan dan negarawan yang cerdas bukan saja di Gowa dan di Tallo, melainkan juga sampai di luar kerajaan. Beliau menulis beberapa buku tentang ketatanegaraan, soal-soal perseroan, dan hukum-hukum pelayaran. Selain itu, dia juga menguasai astronomi dan mahir dalam beberapa bahasa asing yaitu bahasa Arab, Portugis, Spanyol, Denmark, dan Latin.

Keluarbiasaan Karaeng Pattingalloang tersebut menyebabkan Bendaharawan Kerajaan Tallo, Daeng Materru’ (Sang Pemberani), bermaksud menganugerahkan nama sandang Cikal Kemakmuran dan mengucapkan Sumpah Setia Kebulatan Tekad para takyat kepada pemerintahnya. Dia pun menentukan waktu untuk melaksanakannya, yaitu pada malam Lebaran Idul Fithri.

Atas dasar Surah Al-Ashr, surah yang menegaskan bahwa manusia yang tidak menggunakan masanya (waktunya) dengan sebaik mungkin termasuk manusia yang merugi, malam lebaran kali itu dimuati dengan sekian banyak kegiatan seusai takbir keliling.

Ternyata segala sesuatunya telah dipersiapkan (direkayasa) dengan matang oleh Sang Bendahara Kerajaan dengan langkah-langkah yang matang pula. Pertama, dia merangkul anggota Angkatan Muda yang wakilnya sudah ada di Dewan Bate Salapang (semacam DPR sekarang). Kedua, dalam acara  tersebut Tukajannannganga, Anrong Ta’bala’, dan Tumailalang Lolo sengaja tidak diundang. Yang diundang hanya Penasihat Kerajaan yang bijak serta Tumailalang Towa yang tua-renta. Ketiga, dan ini yang paling diandalkannya, kerjasama dengan Karaeng Tunipattolo Daeng Marompa (kemanakan Karaeng Pattingalloang) yang bencong, melalui Daeng Talekang (istrinya) yang bendaharawan PERSIWAKARUNG (Persatuan  Istri Punggawa, Istri Karaeng, dan istri Arung) untuk memengaruhi Daeng Ngani (istri Karaeng Pattingalloang) yang Ketua PERSIWAKARUNG. Program yang telah diproposalkan dan akan diserahkan menjelang acara itu, ialah penambahan lapangan sholat Ied, lapangan perburuan rusa, serta akan meminta katabelece buat menyebarkan tikar sholat Ied yang akan dilengkapi dengan stiker sebagai tikar standar bagi seluruh penduduk.

Akan tetapi semua taktik itu secara perlahan diketahui oleh Karaeng Pattingalloang, termasuk rahasia Anrong Ta’bala’, yang sesungguhnya juga punya maksud serupa tapi tak sama, tapi tak seberani Daeng Materru’.

Benturan pun terjadi antara satu dengan yang lainnya, karena para pembesar kerajaan yang sengaja tidak diundang, ternyata hadir semua atas “jasa” bisik-bisik Suro Kerajaan. Terakhir, simbol penghargaan yang dipersiapkan oleh Daeng Materru, dikalungkan di leher Daeng Materru’ sendiri oleh Karaeng Pattingalloang, sementara Angkatan Muda yang baru sadar bahwa mereka ditunggangi, mempersembahkan tari Pakkape (tari Kipas) bagi Daeng Materru’, sekaligus bagi DM-DM MK atau Daeng Materru’- Daeng Materru’ Masa Kini.*

Catatan:
Drama ini telah diterbitkan bersama drama Arung Palakka
dan Para Karaeng di bawah judul Trilogi Drama TEROPONG DAN MERIAM
oleh Hasanuddin University Press atas bantuan Prof. Dr. Ir. Radi A. Gany.

PROSES KREATIF


PROSES PENULISAN DRAMA
Datu Museng & Maipa Deapati

Kalau di Inggris dikenal Romeo + Juliet melalui dramawan W. Shakespeare, Laila Majnun di India melalui film, maka di Sulawesi Selatan dikenal Datu Museng dan Maipa Deapati. Ketiga legenda tersebut berinti tema cinta, dengan akhir hidup yang saling berbeda.  Romeo + Juliet mengakhiri hidup dengan minum racun, Laila dan Majnun di tengah teriknya padang pasir, dan Datu Museng menghentikan napas  Maipa Deapati, istrinya, dengan badiknya sendiri.

***

Kami yang berdiam di kampung Ponre, 3 km sebelum masuk kota Bulukumba dari Makassar, sesudah santap malam pada setiap malam Rabu, berjejer di pinggir jalan raya menunggu resitasi sastra tutur diiringi gesekan rebab melalui radio. Perpaduan antara seni sastra lisan dan seni musik tersebut dikenal dengan sinrili’, dimainkan oleh Bapa’ Mudi’. Radio ketika itu adalah media teknologi komunikasi tercanggih. Karena canggihnya berarti mahal, dan karena mahalnya berarti tidak banyak penduduk yang memilikinya. Ini tahun 1957.


Radio di kampung Ponre yang berpenduduk k.l. 100 orang itu, jumlahnya tidak cukup sepulun buah ketika itu. Setrumnya bersumber dari sebuah generator raksasa, ditaruh di bawah saoraja (istana) kediaman Bapak Kepala Distrik. Generator itu dipersiapkan untuk mesin produksi tapioka. Sampai generator itu tidak bisa lagi mengeluarkan setrum, program produksi tapioka tidak pernah terwujud. Entah apa penyebabnya, tapi yang pasti keamanan sangat labil ketika itu.  

Sambil menikmati sinrili’ lewat radio, terdengar monolog atau dialog antarpendengar menanggapinya. Meskipun Bapa’ Mudi’ menggunakan bahasa Makassar, kami tetap bisa menikmatinya. Hal itu disebabkan masyarakat Ponre termasuk masyarakata yang bilingual, bahasa Makassar dan bahasa Bugis. Kedua bahasa ini masih serumpun, yaitu rumpun bahasa Austronesia. Doktor Nurhayati, dari Fakultas Sastra (kini Fak. Ilmu Budaya) Universitas Hasanuddin, menegaskan, persamaan kosa kata bahasa Bugis dan bahasa Makassar lebih dari 60%.

Melalui sinrili’ itulah saya ”bertemu” dengan Datu Museng untuk pertama kalinya. Pertemuan kedua pada awal 1960-an lewat novel karya Verdy R. Baso, yang dipinjamkan oleh seorang tetangga, pemain sepak bola bernama Racide’ (Abd. Rasyid, alm.). Pertemuan ketiga pada awal Mei 1975 di Makassar, saat Abdulkadir Sila, pimpinan Studi Teater Tambora datang di belakang layar bioskop DKM (Dewan Kesenian Makassar), tempat tinggal saya dengan istri dan seorang anak saya, Yuyun (meninggal pada usia 6 bulan 1 minggu).

”Kita pentas. Fahmi tulis naskahnya. Ini...,” kata Kadir Sila ketika itu sambil menyodorkan novel Datu Museng, persis yang telah saya baca semasih di Bulukumba. ”Fahmi sutradara, saya produser. Produksi Tambora,” katanya lagi.
”Akan saya coba. Mudah-mudahan saya bisa,” kata saya.

Sambil menulis naskah, pada kesempatan-kesempatan tertentu saya cari informasi tambahan tentang kisah cinta Datu Museng dan Maipa Deapati. Bapak Mappaseleng Daeng Maggaoe, B.A. yang tentu telah hapal legenda percintaaan antara Datu Museng dengan Maipa Deapati, berulang kali saya temui, karena beliaulah yang menggantikan Bapa’ Mudi’ sebagai pasinrili’ di RRI. Ketika itu Pak Mappaseleng pegawai Kantor Departemen Penerangan RI Provinsi Sulawesi Selatan. Selain itu, saya menghubungi Bapak Kepala Kantor Pos Besar Sulawesi Selatan yang orang Sumbawa, cari data terutama yang berkaitan dengan aspek sosial Sumbawa, yang ternyata tidak jauh beda dengan Bugis Makassar. Perbedaannya yang paling jelas pada bahasa. Begitu antusiasnya Bapak tersebut (maaf, namanya saya lupa) beliau berulang kali menyaksikan latihan di Gedung DKM Jl. Irian No. 69. Kepada beliau dan keluarganya terima kasih tak terhingga saya sampaikan.

Entah untuk apa, tetapi suatu hari Ahad, saya dengan beberapa teman ziarah ke makam Datu Museng dan Maipa Deapati. Di makam itu, di satu makam, dua nisan kayu berdiri bersanding kukuh, mengkilap kehitaman, terletak di ujung barat Jl. Datu Museng, seberang-utara RS Stella Maris.

Menyusun kisah Datu Museng untuk dipertunjukkan, ternyata sebuah kerja berat. ”Berat” kata saya, karena, pertama, saya sudah menempatkan diri sebagai sutradara, dalam pengertian, yang ada di imaji harus ditulis dan harus mampu diaudiovisualkan. Kedua, kisah Datu Museng dengan kekasihnya Maipa Deapati telah memasyarakat. Karena saya belum pernah membaca teori penulisan drama, maka ”teori” yang mendasari penulisan justru naskah-naskah drama di mana saya pernah ikut main.

Sebagai sastra drama, kisah Datu Museng dan Maipa Deapati saya selesaikan tanggal 5 Juni 1975, terbagi atas 4 babak dengan struktur: Babak I di rumah kakek Datu Museng, Babak II di istana Maggauka Datu Taliwang (keduanya di Sumbawa). Babak III dan IV di Makassar, masing-masing di kantor Belanda Tumalompowa dan di rumah Datu Museng.

Judulnya? Belum ada, tapi ”kasih sayang antarkekasih mengatasi segala-galanya,” hal utama dan pertama tak boleh lepas. Saya teringat drama Romeo+Juliet (1595) yang diselesaikan dengan racun oleh penulisnya, William Shakespeare, film India Laila Majenun diakhiri sutradaranya di bawah terik matahari di atas padang pasir. Lalu, Maipa Deapati, menyerahkan lehernya kepada Datu Museng, suaminya, dengan keris matatarampanna. Ketiga tragedi cinta tersebut berpangkal pada konflik sendiri-sendiri dan dengan penyelesaian sendiri-sendiri. Jadi judulnya Kisah Cinta Bersimbah Darah?, atau Bunuhlah Aku Kalau Engkau Mengasihiku?,  atau Kita Jemput Maut Atas Nama Kasih?, atau...?

Datu Museng & Maipa Deapati, itulah judulnya. Hanya itu. Jatuhnya pilihan pada nama tokoh protagonisnya, Datu Museng dan Maipa Deapati, bukan epigon pada Romeo-Juliet atau Laila Majenun, melainkan karena perhitungan bahwa kisah ini telah memasyarakat di semua strata sejak dulu di Sulawesi Selatan pada umumnya. Logikanya, karena telah memasyarakat, berarti akan banyak penonton. Karena banyak penonton, berarti banyak karcis yang terjual. Karena banyak karcis terjual, ya, modal produksi setidak-tidaknya bisa kembali.

Teknik pengungkapan Datu Museng & Maipa Deapati sebagai sastra drama berdasarkan formulasi Aristoteles, the three unities, H3K (Hukum 3 Kesatuan): kesatuan waktu, kesatuan tempat, kesatuan lakuan. Tetapi istilah itu saya ketahui lebih sepuluh tahun kemudian, atau sesudah naskah ditulis dan dipentaskan berulang kali. Dan karena Aristoteles menegaskan bahwa pendapatnya bukan harga mati, sekadar formulasi, maka dalam format tersebut, sinrili’ saya jadikan salah satu akses pengembangan H3K. Sinrili’ di sini menjadi narasi pembuka, antarbabak, dan penutup.

Tanpa buang-buang waktu, produksi segera diawali atas nama Studi Teater Tambora melalui latihan di Gedung DKM yang open air di Jl. Irian No 60 atas izin Ketua DKM, Rahman Arge tanpa bayaran sepeser pun. Sejumlah 27 pemain (belum ditentukan peranannya) berlatih lima kali semingu dari pukul 15.00-18.00 pada latihan bulan pertama. Bulan kedua ditingkatkan, setiap hari kecuali hari Ahad. Bulan ketiga, tepatnya 3 dan 4 Agustus 1975, drama Datu Museng & Maipa Deapati dipentaskan di gedung bioskop Madya (dulu Empress Theatre, lalu Mitra). Berikutnya 9 Agustus 1975 dipentaskan khusus untuk para siswa SMA se-Makassar di panggung terbuka Benteng Ujung Pandang (Fort Rotterdam).

Sebelum pementasan untuk murid SMA pada tanggal 7 Agustus 1975, diadakan general rehearsal yang disaksikan oleh Wahyu Sihombing dan Pramana Padmadarmaya. Kedua tokoh teater dari Dewan Kesenian Jakarta yang kebetulan ada di Makassar itu bertamu ke DKM. Siapa yang menyampaikannya bahwa ada latihan teater, entahlah, tapi yang pasti seusai latihan diadakan bincang-bincang. Dari pertemuan itu ada kesan yang tak pernah saya lupakan sampai sekarang. Begini:
”Adik-adik ini latihan berapa lama,?” tanya Pak Pram (panggilan akrab Pramana Padmadarmaya) dengan irama kebapakan.
”Dengan pementasan yang lalu, sekitar dua bulan,” jawab saya sebagai sutradara.
”Main berapa malam?” Pertanyaan ini dari pak Hombing (Wahyu Sihombing).
”Satu malam,” jawab saya.
”Satu malam?!, tanyanya lagi dengan tekanan Bataknya.
”Eh, bukan. Kami sudah main dua malam. Bulan lalu, di Gedung Nioskop Mitra.”
”Dengan yang ini,?” Pak Hombing menjelaskan maksudnya.
”Oh, dengan yang ini, tiga malam.”
”Bah! Latihan dua bulan, main tiga malam. Rugilah kamu itu. Main banyak-banyak.”
“Caranya?,” salah seorang teman nyeletuk.
“Bah! Bilang pada itu, gubernurmu,! Sahut Wahyu Sihombing lagi.

Kami hanya saling berpandangan menanggapi ucapan seniman Indonesia itu. Mungkin dia lupa bahwa Makassar bukan di bawah Ali Sadikin yang dengan naluri kenegarawanannya membuat Taman Ismail Marzuki, Jakarta.
Sekitar sebulan lebih kemudian (4, 5, dan 6 September 1975), Datu Museng & Maipa Deapati diproduksi oleh Poseidon Arts Group dengan produser Salam Noor Ahmad, B.A. Grup teater ini kerja sama dengan PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) Sulawesi Selatan. Pementasannya berlangsung di Gedung Kesenian DKM Jl. Irian 69, dan, lagi-lagi tanpa bayaran gedung dan setrum lampu.

Beberapa menit sebelum pementasan malam pertama, saya sebagai penulis sekaligus sebagai sutradara, menerima penghargaan dari Sekretaris Jenderal PWI Pusat, Sunardi DM, didampingi Rahman Arge yang Ketua PWI Sulawesi Selatan. Penghargaan yang sama, juga diberikan pada Salam Noor Ahmad, B.A. sebagai produser dan Verdy R. Baso, wartawan Hr. Pedoman Rakyat yang novelnya dijadikan salah satu sumber penulisan.

Memakai nama tokoh yang akrab dengan masyarakat sebagai judul untuk pementasan pada tahun 1970-an, merupakan iklan utama. Hal ini terbukti dalam pementasan tersebut di atas. Saat diproduksi oleh Poseidon Arts Group di Gedung Kesenian DKM selama 3 malam berturut-turut, tiket yang Rp 150 di loket dicatut sampai Rp 500. Bahkan ada pemain yang sembunyi-sembunyi ikut mencatut. Penontonnya? Pada malam terakhir dua bus Koammas datang dari Maros khusus untuk nonton. Dari pementasan Datu Museng & Maipa Deapati tahun 1975, para pemain menerima honorarium Rp 3.500 perorang selama tiga malam pementasan.

Dari pengalaman menulis itu, beberapa pelajaran yang sangat berarti saya peroleh. Bahwa, struktur sebuah kisah yang historis atau legendaris, tidak harus menjadi struktur dalam wujud audio visual. Hal ini saya terapkan terutama dalam hal alur demi menghindarkan adegan yang sarat informasi tanpa konflik. Ini berarti tidak semua peristiwa dalam sejarah atau legenda harus terekspresi dalam adegan. Tetapi sebaliknya, jika memang prinsipal, ada saja satu dua patah kata dari data historis atau legendarisnya justru terekspresi dalam beberapa halaman.

Bertolak dari hal-hal tersebut di atas, naskah tahun 1975 sebagi naskah awal yang menjadi dasar pementasan, saya ubah dan tegaskan sebagai berikut:
●    Sinrili’ yang saya kutip dari Makassarsche Christomathie oleh Matthes (1939) yang membuka, mengantarai babak, menutup peristiwa, serta adegan prosesi saat Maipa Deapati turun ke taman permandian, dalam naskah awal belum ada.
●    Babak I pada naskah awal menjadi Babak II, dan sebaliknya Babak II menjadi Babak I. Perubahan ini saya dasarkan atas kronologi peristiwa melalui alur.
●    Tokoh Pangeran Manngalasa dalam naskah awal hanya tampil satu kali untuk merebut Maipa Deapati. Atas dasar perhitungan tokoh antagonis yang termasuk tokoh sentral, tokoh ini kembali tampil pada babak berikutnya, bukan untuk merebut Maipa Deapati, melainkan untuk mengembalikan harga diri sebagai laki-laki yang siap mati bertarung tanpa pengawal, yaitu pertarungan dalam satu sarung melawan Datu Museng.
●    Pada naskah awal, tidak ada tokoh Datu Jarewe’. Dalam pengembangan, tokoh ini dihadirkan berdasarkan alasan bahwa dialah yang justru penyebab ditugaskannya Datu Museng melawan Tumalompowa.
●    nebentext-nya dilakukan seminim mungkin dengan tujuan memberi kebebasan pada sutradara dan pemeran mengembangkan imajinasi kreatifnya. Misalnya, jika ada perubahan suasana adegan atau emosi tokoh, yang tercantum hanya kata ”jeda”. Bagaimana gerak dan wajah pemeran serta irama vokalnya, sepenuhnya diserahkan pada pemeran dan sutradara.

Pementasan demi pementasan berlangsung di berbagai kota, desa, dan panggung. Selain Studi Teater Tambora yang pertama kali memproduksinya, juga diproduksi oleh Poseidon Arts Group Makassar dari 1975-1977, dan Pola Artistik menjadikannya materi teater-keliling di Kabupaten Bulukumba (1977-1978). Tanggal 4 dan 5 Juli 1987 Datu Museng & Maipa Deapati kembali dipentaskan oleh Studi Teater Tambora di Auditorium RRI, Makassar, dengan sutradara Udhin Palisuri, seorang poetry reader Indonesia.

Para teaterawan yang berperan dalam semua pementasan tersebut di atas dan dari berbagai grup teater (yang masih teringat): Abdulkadir Sila, M. Amir Sinrang, Makhfud Ramly, Ina Librawaty, Wiwiek Sumaryo, Marhani S, Hasan Kuba, Sandy Karim (alm.), Udhin Palaguna (alm.), Hasan Mintaraga (alm.), A. Tajuddin Manda (alm), M. Nurdin Padde, Jufri Fattah, Azikin Solthan, Amir Arfah, Dahlan, Yusri Syarifuddin, M. Saleh Baso, Jufri Suaib, Jufri Fattah, Yusuf HM Noor, Nirawaty, Nimra, M. Alwy Gazali, Nasaruddin, Arifin, Abd. Kahar, Agus Adil, Syafri Em Saleh, Firman B, M. Akil, Ilham (alm.), A. La Pariusi (alm.). Mereka ini dari: Study Teater Tambora, Poseidon Arts Group, dan Pola Artistik, Gantarang, Bulukumba.  Terima kasih tak terhingga saya sampaikan, karena tanpa mereka pementasan tak mungkin terwujud.

BUKU TRILOGI DRAMA TEROPONG DAN MERIAM

DR. MOCHTAR PABOTTINGI (LIPI)

Dengan karya trilogi dramanya ini, Teropong dan Meriam, Fahmi Syariff telah memantapkan diri sebagai seorang sastrawan yang piawai, cerdas, dan bijak. Tiga butir pengamatan mendasari penilaian tersebut. Pertama, Fahmi bukan hanya mampu memberi kita dialog-dialog yang membuat kita tergeli, melainkan juga dialog-dialog yang mampu membuat kita terpaksa tercenung menyimak makna yang dalam dan visi yang jauh. Kejenakaan dan kecerdasan itu juga tercermin pada ketangkasannya bolak balik dari masa lampau ke masa kini, terutama kala protagonis memperbincangkan “benteng” dan  “parit pertahanan” -model ratusan tahun silam- dengan “proyek” dan rekayasa “pimpro” korup Daeng Materru, model jutaan turunannya dewasa ini, yang jumlahnya menonjol di Sulawesi Selatan sendiri.

Kedua, tersambung dengan butir pertama, Fahmi menunjukkan pemahamannya akan tema dan teknik drama klasik dan kontemporer, di mana yang lucu dan komikal bersambung langsung dengan yang patetis dan tragis, serta di mana yang gamblang duniawi berbaur langsung dengan pertanyaan-pertanyaan terdalam manusia, pertanyaan-pertanyaan filosofis tentang yang  ada dan yang tiada serta yang benar dan yang salah.

Semua ini tetap lengket erat sejak dari Isocrates, Socrates, Plato, dan Aristoteles dalam pergulatan filosofis manusia yang tak kunjung terjawab tuntas hingga kini. Seperti Shakespeare dalam Hamlet, Othello, maupun King Lear, tokoh-tokoh besar dalam warisan sejarah leluhur kita, khususnya I La Tenritatta Arung Palakka ditampilkannya tanpa semangat pendewaan, melainkan dengan semangat realitas yang tinggi. Keberanian dan ketegaran sang tokoh legendaris yang memang sulit dicari tandingannya ini ditampilkannya sebagai manusia biasa dengan saat-saat dirundung gamang dan bimbang.

Tema-teknik demikian merupakan trade mark Shakespeare. Akan tetapi itu juga dapat ditemukan pada Aeschylus dan Sophocles jauh sebelumnya. Tema-teknik ini juga tetap laku hingga ke masa kita, pada Beckett dan Ionesco, misalnya, dan sangat menonjol pada karya-karya Arifin C. Noer maupun Putu Wijaya. Dengan kata lain, Fahmi menangkap esensi drama klasik dan modern dan menerapkannya ke dalam paradigma kultural dan pengalaman sejarah “Bosara” (Bone-Mangkasara, Bugis-Makassar). Fahmi bahkan tampil orisinal ketika dia mendobrak batas klise tradisional antara yang banci dan yang jantan pada tokoh Tunipattolo Daeng Rompa. Tidak mustahil jika dalam waktu dekat ini “Daeng Rompa” akan menjadi idiom sastra mengunokan tembok jender dan keangkuhan kaum lelaki, dan lagi-lagi sangat relevan dalam konteks kultural Bugis-Makassar.

Ketiga, dan mungkin terpenting (bukan hanya sehubungan dengan paradigma kultural dan sejarah Bugis-Makassar-Mandar-Toraja, dst., melainkan juga dalam konteks paradigma politik) adalah momen sejarah dan/tokoh-tokoh yang disebut oleh playwright kita. Fahmi tidak mengangkat I Sawerigading atau I La Galigo. Dia mengangkat I Mallombasi, Daeng Serang, dan raja-mahaguru (philosopher king) Karaeng Pattingalloang. Dia juga mengangkat tokoh-tokoh pemikir politik Bugis, yaitu dari rangkaian nama seperti Kajao La Liddo, Tociung, dan Tomaddauleng -tokoh-tokoh sentral seperti dalam karya klasik Profesor Mattulada- yang kemudian diakui oleh Antony Reid sebagai pemula pemikiran politik modern dalam sejarah umat manusia. Bagi Reid, mereka hanya terbandingkan (comparable) dengan para pemikir serta pelaku politik legendaris di abad yang sama (abad ke-17). Rangkaian tema-teknik seperti itu jelas belum tergarap dalam karya-karya drama Aspar Paturusi maupun Rahman Arge sebelumnya - dua penulis drama terkemuka di Sulawesi Selatan.

Pada kesempatan ini perkenankan saya menyatakan kesepakatan penuh dengan pilihan momen dan rangkaian tokoh Fahmi. Ini perlu ditandaskan sebab dalam satu dua tahun terakhir ini, kita terseret dalam hipnosis Sawerigading dan/atau La Galigo, yang sangat kental paradigma feodal dan mitologisnya. Kita jangan terjebak ke dalam puji-sanjung para ahli luar negeri pada ribuan lembar naskah warisan leluhur kita, sebab selain kita lebih tahu tentang apa yang kita butuhkan, kita juga mesti menyadari bahwa tak terhitung puji-sanjung sesungguhnya berakibat dan/atau bertujuan menghancurkan. Dan Kompaniya serta para turunannya sekarang yang berkongsi dengan para turunan Daeng Materru sangat ahli dalam muslihat demikian. Kita wajib menghargai warisan leluhur kita, namun To Ugi’ sibawa To Mangkasa’e jangan sampai bernasib sebagai suku-suku Indian atau Polinesia di Amerika Serikat - suku-suku Tunipattolo - yang sudah ditolak oleh tokoh “Daeng Rompa” sendiri. Nasib, kualitas SDM, dan kiprah menyongsong masa depan masyarakat Sulawesi Selatan sudah tertinggal puluhan, mungkin ratusan tahun. Itu semua hanya bisa terangkat, justru jika mereka tidak terus berkubang mengipas-ngipas ego kolektif kuno dalam alam feodal mitologis, atau apa yang pernah disebut oleh Rendra untuk Mataram “kebudayaan kasur tua”, jika kita sanggup tegar dan cerdas menyambung serta meneruskan kepeloporan kreativitas politik – dalam esensi siri’ sebagai perwujudan prinsip-prinsip acca, lempu’, warani, getteng (cerdas, jujur, berani, konstan) milik suku Bugis-Mandar- Makassar dari abad ke-17 itu.

Selamat kita ucapkan kepada Fahmi Syariff untuk karyanya yang penting ini!

Jakarta, Juni 2004


Rabu, 12 Januari 2011

PUISI oleh Fahmi Syariff


doa

Tuhanku
kau padaku
yakin aku

aku pada-Mu
ombak pada pantai

masihkah ada ampun bagiku?

2008



demi persajakan

mari
arungi
samudra tak bertepi
 tapi
jangan dengan rembulan malam ini
jangan dengan mentari
siang tadi
jadi
arungi
samudra tak bertepi
dengan korupsi
2008



oksimoron

negeri kekurangan
karena kelebihan
koruptor
yang bukan
koruptor kebanyakan

2009

SMS DARI HALIM HD

1. 30 Okt 2009, 14:33:56.
Road Show Burung Merak Putu Wijaya: Bdg (8 Nov) Pkalongan (10 Nov), Semarang (11), Kudus (12), Yogya (14), Solo (15), Airlangga (17), Mojokerto (18), Jombang (19), Surabaya (21), Malang (23), Singaraja (25), Jakarta (28).

2. 30 Okt 2009, 17:16:24.
Garapan MAINTEATER (sofwan) n PAYUNG HITAM (r.sabur) bagus sekali.

3. 31 Okt 2009, 14:07:23, 14:08:41.
Ka, buku atau paper mana yang datax dicuri oleh Asia. Bisa minta info.tks.

JAWABAN: 31 Okt 2009, 18:51:56.
Data2 ttg aktvtas ttr di mks th 50an di bawah jdl: JJK2 TTR REALIS dlm buku MELAKONITEATER hal 64 mulai klm 2 alinea 2, hal 65 al 1, hal 66 al 1, 3 (tdk mnybut sumer). Bandingkan dg tlsan saya dlm ANTOLOGI TTR IND oleh mspi 1999: KCNDRUNGA & PRKMBNGAN DLM TTR DI SULSEL 1940-1990. Kok tahu?

4. 31 Okt 2009, 17:19:09.
Kapan2 nanti dokuya, jika mrk sdh slsai keliling.

5. 31 Okt 2009,17:56:20.
Sy mau membawa hal itu kehadapan publik milis teater.via sms sy sdh lontarkan masalah itu.

JAWABAN: 31 Okt 2009, 18:59:43.
Kesenimanan butuh kejujuran. Ok?

6. 31 Okt 2009, 18:00:44.
Tanpa kejujuran=maling

7. 31 Okt 2009, 18:17:33.
BERKAH TERSELUBUNG BAGI ASIA RAMLI tidak DIUNDANG KE MTI SOLO!

JAWABAN: 31 Okt 2009, 19:20:56
Syukur...

8. 31 Okt 2009, 18:18:56.
Kalo dia diundang n dtg, sy bisa bikin forum yg bisa membuat asia ringsek secara moral.

9. 31 Okt 2009, 18:22:27.
Sdh lama sy ngambil jarak dgn dia, krn cenderung koruptif dlm baxk hal.

10. 31 Okt 2009, 18:47:3O.
ADA BAIKX ANDA BIKIN FORUM MEMBEDAH MELAKONI TEATER DI MKSR. NANTI BK KIRIM DR BDG 5 EKS. BGMN? UGKIN ININNAWA BISA JADI PENYELENGGARA.

JAWABAN: 31 Okt 2009, 19:50:40.
Ide menarik. Kl ininnawa siap, ok aja.

11. 31 Okt 2009, 18:52:37.
Nanti sy kntak ininnawa n stb.

JAWABAN: 31 Okt 2009, 21:08:49.
Ok.

12. 31 Okt 2009, 20:06:39.
Diskusi buku MELAKONI TEATER, 50 thn STB akan diselenggaraka oleh Teater Kala Shinta Febriany.

13. 31 Okt 2009, 20:34:28.
rencana minggu kedua november diskusi MALKONI TEATER di makassar. (sms shinta febriany).

JAWABAN: 31 Okt 2009, 21:37:15.
Tgl 10-16 nov saya n klrga di pknbaru riau.

14. 1 Nov 2009, 15:02:50.
Ka, bisa anda kirim FOTOCOPY TULISAN ANDA D MSPI? Tks.

15. 1 Nov 2009, 15:04:29.
Kalo bisa ini alamat pos saya:Jl. Kali Kuantan II/5, JAGALAN, SOLO 57124.

JAWABAN: 1 Nov 2009, 16:05:03.
Ok. Tp mngkin besok.

16. 1 Nov 2009, 15:05:41.
Ok.tks.sy tunggu kiriman anda.

KEPADA JACOB: 1 Nov 2009, 16:41:11.
Saya mau pinjam buku yg muat tlsan ttr yg diambil ram.

BUKU TRILOGI DRAMA TEROPONG DAN MERIAM

Mempertemukan I Mallombasi, Karaeng Karunrung,
dan Arung Palakka

oleh Basri (Hr. Fajar, Minggu 31 juli 2005).

Judul : Trilogi Drama Teropong dan Meriam.
Cetakan : I, 2005.
Penulis : Fahmi Syariff.
Pengantar: Dr. Mochtar Pabottingi.
Tebal : 220 halaman.
Penerbit: Hasanuddin University Press.

ADA sesuatu yang menuntun keinginan-kemauan untuk terus membaca Teropong dan Meriam. Buku trilogi drama karya Fahmi Syariff ini lebih awal membuka “mata interpretasi” pembaca dengan menyajikan sampul depan yang ilustrasinya sangat satiris.

Ilustrasi sampul yang didesain teaterawan Yacob Marala ini menampakkan semacam siluet meriam dan teropong. Menariknya, meriam tempo doeloe itu diposisikan berlawanan arah dengan peneropong. Meriam mengarah ke depan (boleh jadi ke arah musuh), tetapi, teropong diarahkan sebaliknya (ke belakang). Terjadilah perlawanan antara sasaran dengan bidikan.

Tentu saja siluet ini menjadi ruh terhadap muatan tiga judul drama yang disajikan Fahmi Syariff dalam buku setebal 220 halaman itu. Tak salah jika Dr. Mochtar Pabottingi (hal. xi) mengawali kata pengantarnya dengan menilai bahwa Fahmi Syariff telah mengukuhkan diri sebagai seorang sastrawan yang piawai, cerdas, dan bijak.

Tanpa kepiawaian itu, Fahmi sulit mempertemukan tiga tokoh sejarah yang kontroversial: I Mallombasi, Karaeng Karunrung, dan Arung Palakka dalam salah satu triloginya: Para Karaeng (hal 132-218). Tanpa kecerdasan, Fahmi sulit menyusun dialog-dialog yang membuat pembaca tercenung dalam visi jauh ke depan, tapi juga ditarik dari perjalanan jauh ke belakang bernama masa silam.

Tanpa kebijakan, Fahmi juga sulit memberi sudut pandang yang arif tentang tema yang disajikan. Tema itu menyentuh gagasan besar yang membolak-balik masa silam, lalu dijadikannya tumpangan untuk membangun tema universal tentang manusia masa kini. Mungkin juga sebuah “rekonstruksi nilai” untuk manusia masa datang.

Kearifan demi kearifan dibangun melalui karakter tokoh yang patut menjadi anutan. Tentu saja dengan tidak mengabaikan tokoh antagonis yang makin memperjelas tokoh protagonis dan karakter-karakter lainnya. Nilai-nilai kearifan lokal yang mengalir dari dialog ke dialog ini, membuat Trilogi Drama Teropong dan Meriam patut dipertimbangkan untuk diajarkan di sekolah-sekolah sebagai bidang studi muatan lokal. Setidaknya menjadi buku penunjang pendidikan sebagai pengayaan batin anak didik.

Dialog dengan pilihan kata yang sederhana dan pendek-pendek, membuka peluang untuk muatan lokal bagi siswa SMP dan SMU itu. Terutama pula karena banyak dialog yang dilengkapi tulisan aksara Lontara Bugis dan Makassar. Namun, dalam kesederhanaan pilihan kata itu, sesungguhnya mengandung nilai filosofis dan semiotis yang cukup dahsyat sehingga sangat membuka peluang untuk dikaji dan diajarkan di Perguruan Tinggi.

Secara teknis, Mochtar Pabottingi bahkan memuji bahwa Fahmi menunjukkan pemahamannya terhadap tema dan teknik drama klasik dan kontemporer: “… di mana yang lucu dan komikal bersambung langsung dengan yang patetis dan tragis, serta di mana yang gamblang duniawi berbaur langsung dengan pertanyaan-pertanyaan terdalam manusia, pertanyaan-pertanyaan filosofis tentang ‘yang ada’ dan ‘yang tiada’ serta ‘yang benar’ dan ‘yang salah’.” Kiranya inilah salah satu muatan tematik yang disampaikan Fahmi melalui tiga dramanya itu; Karaeng Pattingaloang (Malam Lebaran di Mangara’bombang), Arung Palakka, dan Para Karaeng. Bahkan, tanpa ragu-ragu Mochtar Pabottingi menegaskan (hal xiii): “… Rangkaian tema-teknik seperti ini jelas belum tergarap dalam karya-karya drama Aspar Paturusi maupun Rahman Arge sebelumnya – dua penulis drama terkemuka di Sulawesi Selatan.”

Nuansa-nuansa filosofis menyangkut “ada” dan “ketiadaan” yang dimaksud Mochtar tadi dapat dilihat pada dialog I Mallombasi dalam Para Karaeng. Tokoh ini berujar: “… Satu sore, maha- guru kita bertanya begini: Ae, Mallombasi, bagaimana pendapatmu tentang ada dan tiada? Setelah jawaban pertanyaan ini tidak didapatkan dari Karaeng Karunrung, maka I Mallombasi pun menjawab sendiri: “Kujawab, ada dan tiada, adalah hakikat perbandingan.” (hal 140).

Boleh jadi hakikat perbandingan ini pula yang mempertautkan tema ketiga drama itu. Betapa tidak, Fahmi sesungguhnya masih punya drama yang lain yang nilai sastranya bisa dikaji lebih dalam. Manusia-manusia Perbatasan, misalnya. Namun, karena Fahmi (mungkin) ingin menghadirkan sebuah perbandingan, sehingga tiga judul drama dalam trilogi inilah yang dipilih.

Selain perbandingan tiga drama, juga tokoh, suasana, muatan (isi), dan unsur drama lainnya sarat dengan perbandingan. Fahmi bahkan amat berani mempertemukan tiga tokoh besar dalam peradan Bugis-Makassar, yaitu Arung Palakka, I Mallombassi, dan Karaeng Karunrung. Atas keberanian ini, Fahmi bisa saja mendapat berbagai tanggapan dari sejarawan. Namun ia bisa berkelit bahwa ketiga drama ini bukan refleksi sejarah, melainkan pengembangan imajinatif dari salah satu episode dalam sejarah kerajaan yang ada di Sulsel.

Dari pengembangan imajinatif inilah, pembaca dapat menikmati suguhan perbandingan-perbandingan karakter manusia. Pada hakikatnya manusia hidup dalam perbandingan-perbandingan. Dan perbandingan inilah sesungguhnya universalitas kesamaan hakikat manusia itu ditemukan.

Filosofi perbandingan ini bisa saja dicermati dalam sampul tadi, ketika teropong dibidikkan ke belakang, sementara moncong meriam diarahkan ke depan. Ini suatu perbandingan untuk mengetahui “dunia luar” yang mengitari musuh yang sesungguhnya menjadi “sasaran tembak”. Sebab tanpa mengetahui maujud yang lain selain “sasaran”, maka sulit memahami hakikat ”sasaran” yang sesungguhnya. Perkataan lain pula, “yang ada” di depan sasaran moncong meriam itu, perlu diperkaya dengan bahan lain, berupa sesuatu “yang tiada” di belakang meriam. Dalam hal ini, bagian lain yang dibidik oleh teropong tadi.

Atau boleh jadi Fahmi ingin menawarkan suatu fenomena kekinian ketika berbagai kasus sosial telah gagal diselesaikan dalam perspektif kepuasan dan rasa keadilan masyarakat, lantaran moncong meriam (sasaran tembak) tidak pernah bertemu dengan hal-hal yang diteropong. Yang menjadi sasaran tembak teropong berada di depan, sedangkan teropong diarahkan ke belakang.

Itu juga sebuah perbandingan, dan Fahmi telah menampakkan kepiawaian serta kecerdasannya menumpahkan semua itu secara filosofis melalui trilogi ini. Pembaca pun dapat menggali berbagai muatan itu seraya memperoleh pengayaan batin dan kearifan-kearifan. Sebab menurut Mochtar Pahbottingi (hal. xi)., karya ini lahir dari tangan seorang sastrawan yang tidak saja piawai dan cerdas, tapi juga arif.*